Daftar PertanyaanMembunuh dalam perang
Ria SugembongRia Sugembong asked 1 year ago

Bolehkah kita membunuh dalam keadaan perang? Dan perang yang seperti apa yang dibenarkan dan adil?

1 Answers
Friesca SaputraFriesca Saputra answered 1 year ago

Halo, Ria!
Pertama-tama, kita perlu memahami dulu apa yang disebut sebagai perbuatan baik di dalam ajaran moral Gereja Katolik. Perbuatan baik memiliki tiga syarat yang harus terpenuhi sekaligus, yaitu jika dijelaskan secara mudah (1) tujuan yang baik (2) cara yang baik (3) situasi yang tepat (lihat KGK 1750-1755). Namun, situasi yang tidak ideal pun tidak dapat kita hindari. Banyak kejadian yang akhirnya menuntut kita untuk membuat pilihan dalam kejadian yang kurang dari ideal. Dalam situasi semacam itu, ada yang kita kenal sebagai teori “akibat ganda”, yang sangat berkaitan dengan tujuan atau motivasi kita ketika melakukan suatu tindakan.

Tindakan membunuh menjadi dosa ketika dilakukan dengan sadar, tahu, dan mau untuk mengambil nyawa orang lain. Tujuannya adalah untuk menghabisi nyawa seseorang. Namun, dalam keadaan yang tidak bisa dihindari, misalnya perang, ketika untuk membela diri dari penyerang kemudian terpaksa harus membunuh, hal ini menjadikannya sebagai tujuan atau motivasi yang berbeda. Jadi, tujuan sebenarnya bukan untuk menghabisi nyawa orang lain, tetapi karena melindungi diri sendiri, sementara tidak ada jalan lain untuk melindungi diri dari penyerang. Akibat gandanya terletak pada “penyelamatan diri”, tetapi ada akibat yang tidak diinginkan, yaitu “kematian dari penyerang”.

Gereja mengharapkan semua orang untuk menghindari perang, dijelaskan dalam Katekismus Gereja Katolik 2307-2317. Namun, jika perang tidak dapat dihindari, perlawanan bersenjata hanya dapat dibenarkan, kalau serentak persyaratan-persyaratan yang berikut ini terpenuhi: (1) bahwa menurut pengetahuan yang pasti, hak-hak asasi dilanggar secara kasar dan terus-menerus; (2) bahwa segala cara penyelesaian yang lain sudah ditempuh; (3) bahwa karena itu tidak timbul kekacauan yang lebih buruk; (4) bahwa ada harapan yang cukup besar akan keberhasilan; dan (5) bahwa menurut pertimbangan matang tidak dapat diharapkan penyelesaian yang lebih baik. (KGK 2309)
Semoga menjawab.

Bitnami